Kamis, 26 Juni 2014
FIKIH : Istri Tidak Boleh Berpuasa Sunnah Ketika Suami Ada Kecuali Dengan Izin Suami
حدثنا الحسن بن علي حدثنا عبد الرزاق حدثنا معمر عن همام بن منبه أنه سمع أبا هريرة يقول
حدثنا عثمان بن أبي شيبة حدثنا جرير عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي سعيد قال
ويحرم صوم المرأة تطوعا وزوجها حاضر إلا بإذنه لخبر الصحيحين لا يحل لامرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا بإذنه ولأن حق الزوج فرض فلا يجوز تركه لنفل فلو صامت بغير إذنه صح وإن كان حراما كالصلاة في دار مغصوبة وعلمها برضاه كإذنه وسيأتي في النفقات أنه لا يحرم عليها صوم عرفة وعاشوراء
( قوله إلا بإذنه ) أي الزوج
فقياسا على الصوم
FIKIH : Istri Tidak Boleh Mengizinkan Orang Lain Masuk Kedalam Rumah Kecuali Dengan Izin Suami
Kewajiban Istri Pada Suaminya (5)
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ
Artinya : Telah menceritakan kepada kami abu al-yaman, tealah mengabarkan kepada kami syu’aib, telah menceritakan kepada kami abu az-zinad, dari al-aghraj, dari abu hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda, Tidak halal bagi seorang isteri untuk berpuasa (sunnah), sedangkan suaminya ada kecuali dengan izinnya. Dan ia tidak boleh mengizinkan orang lain masuk rumah suami tanpa ijin darinya. Dan jika ia menafkahkan sesuatu tanpa ada perintah dari suami, maka suami mendapat setengah pahalanya. (HR. Bukhori No. 1595 Juz 7 Halaman 30)
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تصم المرأة وبعلها شاهد إلا بإذنه ولا تأذن في بيته وهو شاهد إلا بإذنه وما أنفقت من كسبه من غير أمره فإن نصف أجره له
Artinya : Rasulullah saw bersabda : Seorang wanita tidak dibenarkan melaksanakan shaum padahal suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Perempuan juga tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumah suaminya padahal dia masih ada kecuali atas izinnya. Apa yang diinafkkan seorang wanita dari hasil usaha suami tanpa perintahnya, maka setengah pahalanya adalah untuk suaminya. (HR. Muslim No. 1026 Juz 2 Halaman 711)
Rasulullah saw bersabda :
فاتقوا الله في النساء فإنكم أخذتموهن بأمان الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله ولكم عليهن أن لا يوطئن فرشكم أحدا تكرهونه
Artinya : Bertakwalah kalian dalam urusan para wanita (istri-istri kalian), karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian atas mereka adalah mereka tidak boleh mengizinkan seorang pun yang tidak kalian sukai untuk menginjak permadani kalian. (HR. Muslim No. 1218 Juz 2 Halaman 886)
أخبرنا الحسن بن سفيان قال : حدثنا العباس بن عبدالعظيم العنبري قال : حدثنا عبدالرزاق قال : أخبرنا معمر عن همام بن منبه عن أبي هريرة قال : وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( لا تأذن المرأة في بيت زوجها وهو شاهد إلا بإذنه ) إسناده صحيح على شرط مسلم
Artinya : Telah mengabarkan kepada kami Al-Hasan bin sufyan, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbas bin Abdul ‘Adzim Al-‘Anbari, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ma’mar, dari hammam bin manbah, dari abu Hurairah, ia berkata, dan Rasulullah saw bersabda, (Tidak boleh seorang wanita mengizinkan seorang pun untuk masuk di rumah suaminya sedangkan suaminya ada melainkan dengan izin suaminya). (HR. Ibnu Hibban No. 4168 Juz 9 Halaman 476. Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim)
Larangan ini menunjukkan keharaman. Demikian yang diterangkan dengan jelas oleh kalangan ulama dari madzhab kami. Maka hendaknya mereka tidak mengizinkan seorang pun -yang tidak kalian sukai untuk masuk ke rumah kalian dan duduk di tempat tinggal kalian, baik yang diberi izin itu pria asing, wanita, maupun salah satu mahram si istri. Larangan tersebut mencakup semua itu. Inilah hukum permasalahan di sisi ahli fikih, bahwa tidak halal bagi istri mengizinkan seorang pria, wanita, mahramnya, ataupun yang lainnya, untuk masuk ke rumah suaminya, kecuali orang yang ia yakini atau ia sangka bahwa suami tidak membencinya. Sebab, hukum asalnya adalah keharaman masuk ke rumah seseorang hingga ada izin darinya atau dari orang yang ia izinkan untuk memberi izin (mewakilinya), atau telah diketahui bahwa ia ridha berdasarkan kebiasaan yang berlaku, dan sebagainya. Jika keridhaannya diragukan dan tidak tampak mana yang lebih kuat (ridha atau tidak), serta tidak ada sesuatu yang menunjukkan ridhanya, seseorang tidak dihalalkan untuk masuk ataupun memberi izin orang lain untuk masuk. Kondisi syarat ini tidak ada mafhumnya, namun disebutkan karena faktor kebiasaan. Sebab keluarnya suami bukan berarti si isteri boleh mengizinkan orang lain masuk ke dalam rumahnya. Bahkan larangannya lebih keras lagi karena adanya hadits-hadits yang melarang masuk ke dalam rumah seorang wanita yang sedang sendiri, yang seorang isteri yang suaminya sedang pergi ke luar rumah. Mungkin juga ada mafhumnya, jika si suami ada di rumah maka mudah meminta izin kepadanya. Dan jika si suami tidak ada di rumah andaikata ada keperluan darurat untuk masuk ke dalam rumahnya maka tidaklah perlu meminta izin karena adanya udzur. Kemudian semua itu berkaitan dengan masuk menemui si isteri, adapun mutlak masuk ke dalam rumah misalnya si isteri mengizinkan seseorang masuk ke salah satu tempat dalam rumah untuk keperluaan rumah itu atau ke rumah yang terpisah dari rumah yang ditempatinya, maka dzahirnya masalah ini disamakan dengan masalah yang pertama.
Refrensi :
وهذا النهى للتحريم صرح به أصحابنا
(Lihat Kitab Al-Minhaj Juz 7 Halaman 115)
فيه اشارة إلى أنه لا يفتات على الزوج وغيره من مالكى البيوت وغيرها بالاذن في أملاكهم الا باذنهم وهذا محمول على ما لا يعلم رضا الزوج ونحوه به فان علمت المرأة ونحوها رضاه به جاز كما سبق في النفقة
(Lihat Kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Juz 7 Halaman 115)
قوله: "ولا تأذن في بيته" زاد مسلم من طريق همام عن أبي هريرة "وهو شاهد إلا بإذنه" وهذا القيد لا مفهوم له بل خرج مخرج الغالب، وإلا فغيبة الزوج لا تقتضي الإباحة للمرأة أن تأذن لمن يدخل بيته، بل يتأكد حينئذ عليها المنع لثبوت الأحاديث الواردة في النهي عن الدخول على المغيبات أي من غاب عنها زوجها، ويحتمل أن يكون له مفهوم، وذلك أنه إذا حضر تيسر استئذانه وإذا غاب تعذر فلو دعت الضرورة إلى الدخول عليها لم تفتقر إلى استئذانه لتعذره. ثم هذا كله فيما يتعلق بالدخول عليها، أما مطلق دخول البيت بأن تأذن لشخص في دخول موضع من حقوق الدار التي هي فيها أو إلى دار منفردة عن سكنها فالذي يظهر أنه ملتحق بالأول. وقال النووي: في هذا الحديث إشارة إلى أنه لا يفتات على الزوج بالإذن في بيته إلا بإذنه، وهو محمول على ما لا تعلم رضا الزوج به، أما لو علمت رضا الزوج بذلك فلا حرج عليها، كمن جرت عادته بإدخال الضيفان موضعا معدا لهم سواء كان حاضرا أم غائبا فلا يفتقر إدخالهم إلى إذن خاص لذلك، وحاصله أنه لا بد من اعتبار إذنه تفصيلا أو إجمالا. قوله: "إلا بإذنه" أي الصريح، وهل يقوم ما يقترن به علامة رضاه مقام التصريح بالرضا؟ فيه نظر.
(Lihat Kitab Fathul Bari Juz 9 Halaman 296)
Wallahu A’lam
FIKIH : Istri Harus Memenuhi Ajakan Suami Untuk Melakukan Jimak Dalam Keadaan Apapun Kecuali Dalam Keadaan Haidh Dan Nifas
Kewajiban Istri Pada Suaminya (4)
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيءَ لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Syu'bah dari Sulaiman dari Abu Hazim dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi saw, beliau bersabda: Jika seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur, lalu ia enggan untuk memenuhi ajakan suaminya, maka ia akan dilaknat Malaikat hingga pagi. (HR. Bukhori No. 5193 Juz 7 Halaman 30)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَاتَتْ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ar-‘Arah Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Zurarah dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabdda: Apabila seorang wanita bermalam sementara ia tidak memenuhi ajakan suaminya di tempat tidur, maka Malaikat melaknatnya hingga pagi. (HR. Bukhori No. 5194 Juz 7 Halaman 30)
وحدثنا
محمد بن المثنى وابن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا
شعبة قال سمعت قتادة يحدث عن زرارة بن أوفى عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و
سلم قال
إذا باتت المرأة هاجرة فراش زوجها لعنتها الملائكة حتى تصبح
Artinya : Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basysyar sedangkan lafazhnya dari Al Mutsanna keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; Saya pernah mendengar Qatadah telah menceritakan dari Zurarah bin Aufa dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: Apabila seorang istri enggan bermalam dengan memisahkan diri dari tempat tidur suaminya, maka Malaikat akan melaknatnya sampai pagi. (HR. Muslim No. 1436 Juz 2 Halaman 1059)
حدثنا ابن أبي عمر حدثنا مروان عن يزيد ( يعني ابن كيسان ) عن أبي حازم عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم والذي نفسي بيده ما من رجل يدعو امرأته إلى فراشها فتأبى عليه إلا كان الذي في السماء ساخطا عليها حتى يرضى عنها
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Marwan dari Yazid yaitu Ibnu Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Demi dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya ke ranjang (untuk bersenggama) sedangkan dia enggan, melainkan yang ada di langit murka kepadanya sampai suaminya mema'afkannya. (HR. Muslim No. 1436 Juz 2 Halaman 1059)
وحدثنا
أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا أبو معاوية ح وحدثني أبو سعيد الأشج
حدثنا وكيع ح وحدثني زهير بن حرب ( واللفظ له ) حدثنا جرير كلهم عن الأعمش عن أبي
حازم عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم
إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فلم تأته فبات غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى
تصبح
Artinya : Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Asyaj telah menceritakan kepada kami Waki'. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Zauhair bin Harb dan lafazhnya dari dia, telah menceritakan kepada kami Jarir semuanya dari Al A'masy dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Jika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan, akan tetapi ia (istri) tidak memenuhi ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka ia (istri) mendapatkan laknat para Malaikat sampai subuh. (HR. Muslim No. 1436 Juz 2 Halaman 1059)
حدثنا
محمد بن عمرو الرازي ثنا جرير عن الأعمش عن أبي حازم عن أبي هريرة
عن النبي صلى الله عليه و سلم قال " إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه [ فأبت ]
فلم تأته فبات غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى تصبح " .
Artinya : Telah menceritakan kepada kami muhammad bin amr ar-rozi, telah menceritakan kepada kami ibnu jarir, dari a’masy, dari abi hazim, dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi saw, beliau bersabda, Apabila seorang laki-laki memanggil istrinya ke ranjangnya, lalu wanita tersebut menolak, dan ia tidak juga menemuinya, sampai sang suami tidur dalam keadaan marah kepada sang istri, maka para Malaikat akan melaknat istri tersebut sampai tiba waktu Shubuh. (HR. Abu Daud No. 2141 Juz 1 Halaman 650)
حدثنا هناد حدثنا ملازم بن عمرو قال حدثني عبد الله بن بدر عن قيس بن طلق عن أبيه طلق بن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا الرجل دعا زوجته لحاجته فلتأته وإن كانت على التنور
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Mulazim bin Amr, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Badr, dari Qais bin Thalq, dari ayahnya Thalq bin Ali, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, Jika seorang lelaki mengajak istrinya untuk memenuhi kebutuhannya (jima') maka istrinya wajib memenuhi, meskipun ia sedang berada di dapur. (HR. Tirmidzi No. 1160 Juz 3 Halaman 465)
Haram hukumnya bagi istri menolak ajakan suami di tempat tidur tanpa ada udzur yang menolak, sebab suami mempunyai hak untuk bersenang-senang dengannya di atas kain penutup. Laknat tersebut terus mengarah kepada istri sampai hilang kemarahan suami dengan terbitnya fajar dan suami tidak membutuhkannya lagi, atau sampai istri bertaubat dan kembali ke tempat tidur. Dan nafkah seorang istri menjadi gugur (tidak wajib) bagi suami akibat NUSYUZ (tidak patuhnya istri pada perintah suami) meskipun akibat menolak disentuh tanpa adanya udzur syari, atau terlalu besarnya kemaluan suami sekira istri tidak mampu menanggungnya, atau sebab sakit yang membuatnya nyaris menjalani senggama. Terlarang keras bagi istri untuk menolak ajakan suami untuk bercumbu dengannya dalam batas yang dibolehkan. Karena wanita ini menolak hak suami, sementara itu membahayakan badan suami.
Refrensi :
وفي رواية حتى ترجع هذا دليل على تحريم امتناعها من فراشه لغير عذر شرعى وليس الحيض
بعذر في الامتناع لان له حقا في الاستمتاع بها فوق الإزار ومعنى الحديث أن اللعنة تستمر عليها حتى تزول المعصية بطلوع الفجر والاستغناء عنها أو بتوبتها ورجوعها إلى الفراش قوله صلى الله عليه و سلم ( فبات غضبان عليها ) وفي بعض النسخ غضبانا
(Lihat Kitab Al-Minhaj Syarah Sahih Muslim Juz 7 Halaman 10-11)
قوله : ( وتسقط النفقة ) وبقية المؤن قوله : ( بنشوز ) منه ما لو حبسته ولو بحق أو حبسها هو ولو ظلما , قاله شيخنا الرملي ومنه كونها معتدة عن غيره كوطء شبهة ومنه دعواها طلاقا مثلا , وهل منه ما لو لم تكن في عدة قبل عدته نحو من انقطع حيضها وأمرت بالصبر إلى سن اليأس لتعتد بعده بطهر . نعم فراجعه . وتقدم أنها كذلك لا تلزم الزوج ولو صرف لها المؤن غير عالم بالنشوز , ثم علم فله الاسترداد ولو تصرفت فيه لم يصح لأنه باق على ملكه كما سيأتي , ولو استمتع بها في حالة النشوز لحظة من نهار وجبت نفقته أو من ليلة وجبت نفقتها قاله ابن حجر وتبعه شيخنا في شرحه , ويجري ذلك في سائر صور نشوزها وسيأتي . قوله : ( خروج عن طاعة الزوج ) وإن لم تخرج من بيته أو قدر على تسلمها . نعم لو استمتع بها حالة النشوز لم تسقط مؤنتها , فيجب مؤنة زمان استمتع بها فيه من ليل أو نهار كما مر آنفا عن ابن حجر وشيخنا . قوله : ( بمنع لمس ) أو نظر بنحو تغطية وجه لا لدلال قوله : ( كل يوم ) وهو النهار وليلته قوله : ( وكذا في بعضه في الأصح ) هو المعتمد وكسوة الفصل كنفقة اليوم , ويرجع فيما دفعه لها عن ذلك ويتبين أنه على ملكه , ولو تصرفت فيه تبين بطلانه كما تقدم ولا تعود بعودها للطاعة في بقية الليلة أو اليوم أو الفصل , ما لم يستمتع بها على المعتمد كما تقدم . قوله : ( ونشوز المجنونة إلخ ) وإن كان لا إثم عليهما . قوله : ( وعبالة الزوج ) عذر لا تسقط به نفقتها وتثبت بإقرار أو بأربع نسوة ينظرنه منتشرا ولا يحرم ذلك عليهن لأجل الشهادة ولا يمنعهن من نظره لذلك . قوله : ( عن الوطء ) لا عن الاستمتاع قوله : ( والخروج ) طائعة أو مكرهة بحق وإلا لم تسقط مؤنها للعذر .
(Lihat Kitab Hasyiyah Qulyubi Juz 4 Halaman 79)
وَيَحْرُمُ عليها أَيْ على زَوْجَتِهِ أو جَارِيَتِهِ مَنْعُهُ من اسْتِمْتَاعٍ جَائِزٍ بها تَحْرِيمًا مُغَلَّظًا لِمَنْعِهَا حَقَّهُ مع تَضَرُّرِ بَدَنِهِ بِذَلِكَ
(Lihat Kitab Asna’ Al-Mutholib Juz 3 Halaman 186)
وقوله
باطنا وذلك بأن علق طلاقها بالثلاث على شيء فوجد الشيء المعلق عليه وهو لم يعلم به
( قوله ويحصل النشوز ) دخول على المتن ( قوله بمنع الزوجة الزوج من تمتع ) أي ولو
بحبسها ظلما أو بحق وإن كان الحابس هو الزوج كما اقتضاه كلام ابن المقري واعتمده
الوالد رحمه الله تعالى ويؤخذ منه بالأولى سقوطها بحبسها له ولو بحق للحيلولة بينه
وبينها كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى أو باعتدادها بوطء شبهة
نهاية وكتب الرشيدي قوله وإن كان
الحابس
هو الزوج هو غاية في قوله أو بحق فقط كما يعلم من التحفة
ومحل كون المنع المذكور يحصل به النشوز إذا لم يكن على وجه التدلل أي التحبب
وإظهار الجمال وإلا فلا تكون ناشزة به ( قوله ولو بنحو لمس ) أي ولو منعته من
التمتع بنحو لمس كنظر كأن غطت وجهها أو تولت عنه وإن مكنته من الجماع فإنه يحصل
النشوز به ( قوله أو بموضع عينه ) أي ولو منعته من التمتع بها في موضع منها قد
عينه كيدها وفخذها فإنه يحصل النشوز به
(Lihat Kitab I’anatuth Thalibin Juz 4 Halaman 78-79)
Wallahu A’lam
Langganan:
Postingan (Atom)
